Hari ini sabtu, dan aku tak harus pergi ke kampus. Hari ini hujan, dan aku tak bisa kemana mana. Jadi, hari libur begini aku hanya akan mendekam di kamar kos. Seharian. Bisa dibayangkan bagaimana membosankannya hari libur tanpa liburan ?. Dan yang terparah, aku lapar. Ku kais persediaan makanan di dapur super kecil di bagian belakang kamar 3 x 4 ku, untung masih ada mie instan. Cukup untuk mengganjal perut sampai hujan reda. Ahaaha, lucu sekali. Ini semester keduaku berada di bangku kuliah dan jauh dari orang tua, kalu dirumah aku tak pernah dibiarkan kelaparan seperti ini oleh Ibu. Selalu saja ada makanan tersaji di dapur, lezat dan sehat. Bulan – bulan pertama menjadi anak kos, aku sering sekali sakit karena tidak terbiasa dengan makanan makanan yang dijual disini, kemudian aku lebih sering makan mie instan, tapi ternyata hasilnya tidak lebih baik. Atas saran ibu, aku akhirnya membeli sebuah kompor kecil dan memasak sendiri di dapur kecilku. Rutinitas memasak sendiri itu bertahan tidak lebih dari 3 bulan, aku lebih sering berada di kampus dan tempat lainnya (kecuali kamar kos) sehingga makanan yang kumasak pun terbuang sia sia. Kembalilah aku jajan di luar, dan untungnya perutku sudah adaptif.
Aku menikmati mie panas di teras sempit di depan kamar, sembari menonton hujan yang asyik menari. Halaman kecil yang dipenuhi rumput rumput mutiara itu tergenang, bahkan aku sepertinya bisa mendengar mereka tertawa dijatuhi air yang begitu banyak oleh langit. Karena hujan, sangat jarang bermurah hati disini. Di pinggir pagar pembatas, aku lihat beberapa tanaman liar terantuk antuk dijatuhi hujan yang berbulir besar-besar. Mungkin mereka sedang berteriak kesakitan, tapi mereka tak akan patah. Satu tanaman kecil menarik perhatianku, berbunga bulat, lembut dan putih. Kelopaknya yang halus dan ringan kini basah dan berat. Angin tak lagi mampu menerbangkannya. Dandelion. Bunga penerbang harapan. Ahahaha, cerita masa kecil itu tak akan pernah bisa kulupakan.
***
Dia, teman kecilku yang begitu setia. Kami selalu bermain bersama, bahkan pergi ke sekolah yang sama hingga SMA. Kami sering belajar bersama, tapi dia lebih pintar apalagi dalam pelajaran Ilmu Alam. Pada sabtu sore atau waktu senggang lain kami sering berjalan ke bukit ilalang yang letaknya tak jauh dari rumahku. Bukan bukit seperti bukit lain, tapi itu adalah daratan tertinggi yang ada di desa kami. Jalan setapaknya hanya muat untuk 2 orang, dengan petak petak berbingkai rumput liar. Di kanan kiri terdapat barisan ilalang yang melampaui kepala saat kami masih SD, tapi kemudian memendek ketika kami sudah SMA. Di balik ilalang ilalang tajam itu , bisa kita temukan jalanan rumput yang menurun sangat curam. Di bawahnya terdapat sebuah sungai besar yang masih sehat dan bersih. Kata orang, sungai tersebut merupakan muara dari 3 sungai lain yang juga terdapat di desa kami. Suara gemuruhnya bahkan bisa kami dengar dengan sangat jelas dari atas.
Kenanga, panggil saja dia begitu. Gadis cantik yang periang. Ketika aku asyik mengumpulkan bunga bunga ilalang, dia akan menarikku menuju tempat kesukaannya.
“Ayoo, temani aku ke tempat itu ..” rengeknya.
“Pergilah dulu, bungaku belum banyaak kenanga..” kujawab, tanpa menoleh.
“Ayolah, kau harus ikut.. nanti aku bantu mengumpulkan bunga bunga jelek itu ..” pintanya, dengan ekspresi nyengir dan tanpa sedikit pun merasa bersalah mengatai bunga ku jelek.
Aku melengos, pasrah diseret Kenanga ke tempat yang selalu ia kunjungi jika kami ke bukit ini. Tempat yang tak pernah ia datangi sendiri. Hamparan tanaman liar membentang di depan kami, cukup luas. Dipenuhi dengan semak semak tak jelas, rumput rumput tinggi, beberapa bunga ilalang dan kumpulan tanaman dengan bunga putih lembut seringan kapas. Dandelion. Ya, itulah yang selalu ia cari tiap kali kami datang ke bukit ini. Dia berlari kecil, tak sabaran. Memetik beberapa tangkai dandelion, dan kembali mendekat.
“ayo, bisikkan harapanmu ..” katanya sambil menjulurkan setangkai dandelion padaku.
Aku hanya tersenyum tipis, tapi ku ambil juga.
aku hanya berharap seadanya , “semoga harapan Kenanga terkabul”. Lalu dandelion itu kutiup pelan, hingga semua kelopak putihnya terbang menjauh. Entah dibawa kemana oleh angin. Kenanga masih asyik dengan tangkai tangkai dandelion di genggamannya, memejamkan mata sebentar lalu meniup mereka pelan.
“Harapanmu pasti bukan mendapat nilai sempurna saat ujian Fisika besok kan”, candaku.
“haha, aku berharap kita bisa terus bersama seperti ini“ ucapnya ringan.
Ayo, kubantu mengumpulkan bunga ilalang!” katanya lagi, sambil menarik tanganku.
Hari itu kami habiskan dengan memetik ilalang, dan melihat senja dari atas bukit.
Hari berikutnya dipenuhi oleh tugas – tugas, les intensif dan bimbingan belajar untuk persiapan ujian akhir. Kami tak sempat bermain – main, buku kumpulan soal ujian selalu memenuhi tangan kami, tak cukup satu.
“Kau akan melanjutkan kemana ? kau bilang kau ingin menjadi dokter “ tanyaku suatu sore pada Kenanga .
“Iya, aku ingin sekali menjadi seorang dokter. Ayah bilang ia sedang mengurus kepindahan tugasnya ke Jakarta. Mungkin aku harus ikut dengannya dan melanjutkan disana” jawabnya, pilu.
“kau akan menjadi dokter yang hebat!, pasti.” Kuucapkan padanya dengan sungguh sungguh.
“Terimakasih,jinjin” jawabnya sambil nyengir padaku. Dan aku pura pura cemberut mendengar namaku di modifikasi seenaknya, tapi kemudian kami terbahak bersama. Lama.
Hari hari berikutnya dipenuhi dengan ujian dan tes seleksi perguruan tinggi. Aku memilih jurusan Bahasa Asing di salah satu Universitas di kotaku, dan Kenanga diterima di Fakultas Kedokteran di Jakarta. Ya, kami akan berpisah, mengambil jalan kami masing masing.
Sabtu ini kami libur karena Ujian telah usai. Kami pergi mengunjungi bukit ilalang lagi, yang mungkin akan sangat jarang kami kunjungi bersama lagi. Kami berjalan dalam diam, menikmati belaian angin dan alunan ilalang yang bergesek. Kami melangkah menuju padang Dandelion. Hanya ada setangkai Dandelion yang berbunga, tersembunyi dibalik semak semak. Tapi Kenanga selalu bisa menemukannya.
“Ini bunga berharga, hanya tumbuh satu. Ayo kita minta sebanyak banyaknya, besok kita tak akan bisa meniup Dandelion bersama lagi.” Katanya,ceria.
Aku tersenyum, membenarkan hatiku yang perih. Kita tak akan bisa meniup Dandelion bersama lagi.
Kami menggenggam bunga kapas itu bersama, meneriakkan semua harapan kami. Dan meniupnya, perlahan. Hingga senja terbenam dan bintang mengernyit, kami tetap duduk di bawah Pohon waru bukit ilalang. Hingga bulan akhirnya berpendar meredup, mengantar kami terseok seok di jalan setapak.
Dan tak pernah ada hari yang sama lagi.
Awal Desember, Kenanga pergi meninggalkan ku, teman – temannya dan kampung halamannya. Selamanya. Dia berangkat penuh suka cita, penuh semangat meraih cita citanya di kota Metropolitan. Aku ikut mengantarnya ke Bandara, berpelukan tanpa linangan air mata karena aku tahu dia akan baik baik saja disana.
Tapi semesta memang tak terduga, pesawat yang ditumpangi Kenanga dan keluarganya ,mengalami kecelakaan. Tak ada kabar tentang korban yang selamat. Kecelakaannya parah, disebabkan oleh cuaca buruk yang menguasai langit.
***
Semangkuk mie habis kucerna, gerimis masih menghiasi sore ini. Tapi Dandelion itu sudah mampu berdiri tegak. Harapan Kenanga terkabul, “Semoga kami selalu bersama” begitu yang ia terbangkan dulu. Dan dia memang selalu ada, di tempat yang tak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Si sahabat kecil.
Gerimis berhenti, dan senja menhiburku dengan semburat jingga yang cantik. Dandelion dan senja akan selalu membuatku mengenang Kenanga.
No comments:
Post a Comment