Thursday, December 22, 2011

Untukmu

Sudah berapa lama kita tak bertemu ? bercengkerama atau mungkin beradu. Lama sekali.  Aku ingat saat kita duduk bersama di atas kasur sempit, berdesakan. Disana kita berbagi, mendengar keluh kesahmu, getirmu dan bahagiamu. Kau tersenyum.
Aku tak mengerti tentang apapun saat itu, aku hanya menatapmu polos, kemudian tertidur di pangkuanmu yang hangat.  Sambil mengelus lembut rambutku, kau pun menjelaskan bahwa hidup tak seperti negeri dongeng. Tak ada cerita bahagia selama lamanya, tak ada pangeran berkuda putih atau istana megah, tak ada ibu peri yang bersedia mengabulkan 3 permintaan konyolmu. Dan aku terlelap.

Kini kepalamu berhias rambut putih, kita masih sering berbagi. Aku mulai menumbuhkan ego,  bahkan kadang berpura pura tuli di hadapanmu.
Maaf ibu.
Kini aku jauh, keruh, takut dan luntur. Ini yang kau ceritakan dahulu, bahwa hidup tak pernah mudah.
Aku sadar, betapa kuatnya dirimu, yang mampu bertahan dan tetap tersenyum dibalik setiap luka yang tak sempat mengering.

Maaf ibu,
Aku tak bisa mewadahi keluhmu .
Aku jauh dan sendirian.
Kau tau sakitnya berteman sepi, ibu.  Akupun begitu.

Tunggu ibu,
Aku akan segera pulang .
Akan kita habiskan purnama dengan tawa. Dengan secangkir teh dan beberapa potong kue.
Akan kubayar hutangku bu,
Tunggu ..




No comments:

Post a Comment