Sunday, January 15, 2012

pencuri kecil


Dua batang coklat kutaruh di meja kecilmu
Kuletakkan pelan - pelan, tanpa suara
Mengendap endap aku keluar dari kamarmu
Menutup pintu tua
Mencoba menahan deritnya
Gayaku seperti pencuri saja, pikirku
Agak jauh
Ku tengok ke belakang,
Tersenyum puas
Itu hadiah kecil untukmu,
 untuk kehebatan dan kecerdasanmu
Mungkin harusnya ada yang ketiga,
Untuk kesopananmu
Keempat, untuk kebaikanmu,
Kelima, untuk kemurahan hatimu
Keenam, ketujuh, kesepuluh...
Ah, tak akan penah cukup
Terlalu banyak yang kukagumi darimu
Kulanjuti menapak jalan tanah berlumpur,
Aku terhenyak.
Diantara pagar bambu yang menguning kau bersandar
Tanganmu saling mendekap
Matamu kelam, memandang dengan penuh arti
Kau tesenyum, jenaka
“kau tertangkap”
Dan aku luluh



Wednesday, January 04, 2012

gadis bulan hujan


            Kau ingat saat aku menangis terisak di bulan penuh hujan kemarin ?. Saat aku masih menjadi gadis lemah yang keras kepala, saat aku masih mengemis rasa yang tak lagi ingin kau bagi. Ingatkah kau, sayang?.  Kau biarkanku terpuruk dan terseok, sendirian. Meratapi getirnya ditinggalkan, dan kau tak pernah lagi hirau.
            Kau tak peduli sakitnya aku melihatmu menggenggam jemari gadis lain, berbisik mesra dan tertawa memanjakan. Bahkan kau tak sempat melirik mataku yang sarat dengan keputus asaan.  Kau jahanam!. Aku terluka begitu lama, luka yang semakin menjadi jadi karena selalu kau basuh dengan air garam. Aku menangis tertahan, meresapi setiap luka yang tak mungkin ku bagi dan kusembuhkan sendiri. Aku terpuruk.
            Sahabat sahabat kecil yang tulus, datang dan menjadi pendengar yang setia. Mereka datang dan mengeringkan setiap luka, sedikit demi sedikit. Hingga aku sembuh oleh waktu, meski bekasnya tetap  menyisakan perih.

            Kini aku telah mampu berdiri sendiri, kuat. Bekas luka itu masih ada, dan tak akan pernah bisa hilang. Tapi aku yakin, ini tak akan mengganggu. Aku menjalani semuanya dengan baik. Ya, semua baik baik saja. Aku telah menyadari bahwa hidup tak bisa terpaku pada satu hal. Ada landasan luas yang tak akan habis kita arungi, dan samudera dalam yang tak akan pernah habis dikeruk. Aku mulai menikmati setiap pelajaran dari alam.

            Tiba tiba kau datang lagi, mengucap cinta dan mengajukan diri untuk menjadi teman hidup. Kau menceritakan kenangan lama kita, yang telah kebekukan dalam luka. Kau janjikan hubungan yang lebih baik, kau bilang kau tak pernah bisa enyahkanku dari hatimu. Itu katamu, sayang. Saat kau terpuruk dalam ambisi. Aku tersenyum, tulus. Berkata dengan halus bahwa kau bukan lagi laki laki yang aku impikan. Apa kau terkejut?. Bukankah kau yang mengajariku dengan perih?.
            Maaf sayang, aku bukan lagi gadis kecil yang sama, dengan dia yang dulu menangis terisak di bulan penuh hujan. Aku bukan lagi gadis polos yang selalu kembali saat kau pinta. Bukan lagi gadis bodoh yang dirajai cinta. Aku tak sama lagi, sayang.



Monday, January 02, 2012

coretan pergantian


31 desember 2011,
Orang orang sibuk dengan perayaan mereka masing masing, menyalakan petasan dan kembang api, membuat keributan. Status status di beranda facebook dipenuhi dengan semarak pergantian tahun. Mereka benar benar menikmatinya, tapi tidak aku. Tak ada yang pernah begitu spesial di setiap pergantian tahun dan tak pernah ada yang berubah, kecuali kalender yang terpasang di sudut dinding kamar.  


1 januari 2012
Semua masih tetap sama, matahari masih tetap terbit dari timur dan terbenam di barat. Tanah yang kupijak tetap berwarna coklat, dan langit masih menjadi objek favoritku. Kupu kupu pun masih tetap mengunjungi dahlia dahlia kami, dan kumbang kumbang membantunya beranak tunas. Tak ada yang berubah, begitupun aku. Aku masih tetap sama, seperti hari hari kemarin. Teman temanku, keluarga dan juga kau. Tempat kalian masing masing sudah tertata apik di hatiku, dan takkan terganti. Teman dan keluarga yang kumiliki dan setia mendukungku, dan kau yang tak luput membagi tawa. Aku tak ingin ada yang berubah, walaupun waktu tak pernah mau menunggu, walaupun keabadian hanya dimiliki oleh perubahan. Aku bahagia dengan semua ini. Dengan semua kesederhanaan dan ketulusan yang kita miliki.  Cukup.  Aku bahagia.

Karena cinta telah cukup untuk cinta (Tere – Liye).