Sudah sebulan lebih aku tak pernah pulang, menghirup udara
sejuk yang kian mendingin di Ubud. Beberapa kegiatan di akhir minggu sempat menghentikan
niat pulangku di tengah jalan, tapi tidak boleh kali ini. Libur tenang sebelum
Ujian Akhir harus kumanfaatkan.
Perjalanan Singaraja – Ubud kira
kira menghabiskan waktu 2 jam. Cukup melelahkan, dengan medan yang cukup “menantang”.
Jalan berliku, dengan tikungan tajam yang tak terhitung jumlahnya dan tanjakan
curam yang tersembunyi di baliknya. Mengendarai motor dengan medan seperti ini
memang harus sangat hati – hati, walaupun tidak pelan-pelan (hehe). Sambil
melewati tikungan tikungan menyeramkan itu, aku teringat dengan perkataan
seorang teman tentang perjalanan pulang yang ia sebut dengan perjalanan 4
musim. Ahaaha, benarkah ?.
Coba kuingat-ingat, berangkat dari Singaraja dengan suhu mencapai 32 derajat
serasa sedang berada dalam jeratan Musim
Panas (summer), panasnya membakar dan
selalu membuat keringat menetes. Kemudian perlahan memasuki daerah gitgit,
udara mulai terasa sejuk. Sampai di bedugul dengan kabut dan hawa dinginnya
membuatku mengingatkanku dengan Korea di musim Dingin (winter), dengan nafas yang menguap ke udara. Lepas dari bedugul, medan jalan sudah mulai landai.
Itu artinya kecepatan sepeda motor bisa ditambah (hehe). Jalanan lurus milik
Kabupaten Tabanan ini selalu ramai, apalagi jika sudah samapi Luwus, sekitaran
Pabrik kata kata akan ada banyak bus berjejer yang ditumpangi oleh para
wisatawan domestik yang sibuk berburu oleh oleh. Dan macet ini (sering) membuat
dongkol.
Agar lebih cepat sampai di Ubud, aku biasanya berbelok kiri di balik sebuah
Pohon Beringin besar, kalau tidak salah nama desanya adalah Baha, kemudian
jalan pintas lagi melewati Bongkasa. Dari sini aku merasakan semarak warna
warni musim Semi (spring), dengan
pematang pematang sawah yang menghampar luas, dan bunga bunga yang bermekaran
seperti gemitir dan pacar air yang juga banyak ditanam oleh para petani padi. Lewat
Bongkasa, jarak yang harus ditempuh menuju rumah tinggal sedikit lagi. Aku
sudah tidak sabar.
Sekarang tinggal musim gugur ya ?,
aku tidak ingat apa tepatnya nama daerah itu, tapi banyak kulihat pohon pohon
gersang di pinggir jalan. Pohon gersang yang dingin, dengan daun daun kering
berwarna coklat, meranggas ke jalanan aspal.
Ahh, benar benar lupa nama daerah itu. Kalau tidak salah, daerah itu
setelah bedugul dan sebelum Luwus. Sebelum jalanan provinsi yang lurus dan
lantang.
Ah,kali lain, jika aku ingat nama daerahnya, akan kutambahkan dalam catatan
ini. Hehe
Jadi, sebenarnya perjalanan pulang
selama 2 jam ini cukup menyenangkan untuk dinikmati. Walaupun cukup membuat
pinggang dan pantat pegal pegal atau bahkan encok. Ahaaha.
Sekian dulu ceritaku hari ini, terima kasih telah meluangkan waktu untuk
membaca!
Ada begitu banyak hal hal kecil istimewa, yang sering kita lewatkan.
:)