Wednesday, January 04, 2012

gadis bulan hujan


            Kau ingat saat aku menangis terisak di bulan penuh hujan kemarin ?. Saat aku masih menjadi gadis lemah yang keras kepala, saat aku masih mengemis rasa yang tak lagi ingin kau bagi. Ingatkah kau, sayang?.  Kau biarkanku terpuruk dan terseok, sendirian. Meratapi getirnya ditinggalkan, dan kau tak pernah lagi hirau.
            Kau tak peduli sakitnya aku melihatmu menggenggam jemari gadis lain, berbisik mesra dan tertawa memanjakan. Bahkan kau tak sempat melirik mataku yang sarat dengan keputus asaan.  Kau jahanam!. Aku terluka begitu lama, luka yang semakin menjadi jadi karena selalu kau basuh dengan air garam. Aku menangis tertahan, meresapi setiap luka yang tak mungkin ku bagi dan kusembuhkan sendiri. Aku terpuruk.
            Sahabat sahabat kecil yang tulus, datang dan menjadi pendengar yang setia. Mereka datang dan mengeringkan setiap luka, sedikit demi sedikit. Hingga aku sembuh oleh waktu, meski bekasnya tetap  menyisakan perih.

            Kini aku telah mampu berdiri sendiri, kuat. Bekas luka itu masih ada, dan tak akan pernah bisa hilang. Tapi aku yakin, ini tak akan mengganggu. Aku menjalani semuanya dengan baik. Ya, semua baik baik saja. Aku telah menyadari bahwa hidup tak bisa terpaku pada satu hal. Ada landasan luas yang tak akan habis kita arungi, dan samudera dalam yang tak akan pernah habis dikeruk. Aku mulai menikmati setiap pelajaran dari alam.

            Tiba tiba kau datang lagi, mengucap cinta dan mengajukan diri untuk menjadi teman hidup. Kau menceritakan kenangan lama kita, yang telah kebekukan dalam luka. Kau janjikan hubungan yang lebih baik, kau bilang kau tak pernah bisa enyahkanku dari hatimu. Itu katamu, sayang. Saat kau terpuruk dalam ambisi. Aku tersenyum, tulus. Berkata dengan halus bahwa kau bukan lagi laki laki yang aku impikan. Apa kau terkejut?. Bukankah kau yang mengajariku dengan perih?.
            Maaf sayang, aku bukan lagi gadis kecil yang sama, dengan dia yang dulu menangis terisak di bulan penuh hujan. Aku bukan lagi gadis polos yang selalu kembali saat kau pinta. Bukan lagi gadis bodoh yang dirajai cinta. Aku tak sama lagi, sayang.



2 comments: