Kau
ingat saat aku menangis terisak di bulan penuh hujan kemarin ?. Saat aku masih
menjadi gadis lemah yang keras kepala, saat aku masih mengemis rasa yang tak
lagi ingin kau bagi. Ingatkah kau, sayang?.
Kau biarkanku terpuruk dan terseok, sendirian. Meratapi getirnya
ditinggalkan, dan kau tak pernah lagi hirau.
Kau
tak peduli sakitnya aku melihatmu menggenggam jemari gadis lain, berbisik mesra
dan tertawa memanjakan. Bahkan kau tak sempat melirik mataku yang sarat dengan
keputus asaan. Kau jahanam!. Aku terluka
begitu lama, luka yang semakin menjadi jadi karena selalu kau basuh dengan air
garam. Aku menangis tertahan, meresapi setiap luka yang tak mungkin ku bagi dan
kusembuhkan sendiri. Aku terpuruk.
Sahabat
sahabat kecil yang tulus, datang dan menjadi pendengar yang setia. Mereka datang
dan mengeringkan setiap luka, sedikit demi sedikit. Hingga aku sembuh oleh
waktu, meski bekasnya tetap menyisakan
perih.
Kini aku telah mampu berdiri sendiri, kuat. Bekas luka itu masih ada, dan tak akan pernah bisa hilang. Tapi aku yakin, ini tak akan mengganggu. Aku menjalani semuanya dengan baik. Ya, semua baik baik saja. Aku telah menyadari bahwa hidup tak bisa terpaku pada satu hal. Ada landasan luas yang tak akan habis kita arungi, dan samudera dalam yang tak akan pernah habis dikeruk. Aku mulai menikmati setiap pelajaran dari alam.
Kini aku telah mampu berdiri sendiri, kuat. Bekas luka itu masih ada, dan tak akan pernah bisa hilang. Tapi aku yakin, ini tak akan mengganggu. Aku menjalani semuanya dengan baik. Ya, semua baik baik saja. Aku telah menyadari bahwa hidup tak bisa terpaku pada satu hal. Ada landasan luas yang tak akan habis kita arungi, dan samudera dalam yang tak akan pernah habis dikeruk. Aku mulai menikmati setiap pelajaran dari alam.
Tiba
tiba kau datang lagi, mengucap cinta dan mengajukan diri untuk menjadi teman
hidup. Kau menceritakan kenangan lama kita, yang telah kebekukan dalam luka.
Kau janjikan hubungan yang lebih baik, kau bilang kau tak pernah bisa
enyahkanku dari hatimu. Itu katamu, sayang. Saat kau terpuruk dalam ambisi. Aku
tersenyum, tulus. Berkata dengan halus bahwa kau bukan lagi laki laki yang aku
impikan. Apa kau terkejut?. Bukankah kau yang mengajariku dengan perih?.
keren, acee...
ReplyDeleteteruslah berkarya...:)
ahaha
ReplyDeletemakasi mbk nina,
ajarin yaaa..
:)